Kisah-Kisah Teladan
News Update
Loading...

Kisah Nabi

[Kisah Nabi][recentbylabel]

Kisah Sahabat

[Kisah Sahabat][recentbylabel]

Senin, 23 Agustus 2021

Puasa Ngrowot Selama 25 Tahun, Inilah Kisah Kyai Ahmadi

Puasa Ngrowot Selama 25 Tahun, Inilah Kisah Kyai Ahmadi

Ubi Jalar (Foto: Internet)

Masyarakat Indonesia khususnya di pulau jawa, banyak sekali jenis amalan puasa yang dipraktikkan . Puasa Senin Kamis hanya salah satu dari banyak jenis atau cara berpuasa yang dijalani masyarakat tradisional Jawa. Dari sekian perbedaan tatacara dalam mengamalkannya akan tetapi esensinya tetap sama, yaitu untuk medekatkan diri kepada Allah, menahan hawa nafsu dan sekaligus untuk mendapatkan manfaat sehat.

Adalah KH. Ahmadi, Beliau merupakan salah satu putra dari KH. Syairozi. Saat masih belia Beliau menimba ilmu kepada ayahnya sendiri, beliau mengaji al-Qur’an sampai khatam dan mengaji kitab taqrib sampai khatam dua kali. 

Setelah Beliau berusia 12 tahun, satu minggu setelah beliau melakukan khitan Beliau berangkat menuntut ilmu dengan mondok di Kebonsari Krenceng. Beliau menuntut ilmu di Kebonsari selama empat tahun, Selama di Kebonsari beliau melakukan tirakatan dengan cara puasa Ngrowot.

Puasa Ngrowot adalah jenis puasa dengan cara hanya makan umbi-umbian plus minum air putih saja selama 24 jam sehari. Puasa ini biasanya dimulai petang hari hingga petang hari lagi, dan tidak memerlukan sahur. 

Di Kebonsari beliau mengaji kitab taqrib dari Kyai Faqih, belum genap empat tahun beliau belajar ngaji kepada Kyai Faqih, beliau disuruh mengkaji kitab Taqrib dan Bidayah. Beliau mengajar Kitab Taqrib di pondok Kebonsari setelah sholat dhuhur, sementara setelah sholat Isya’ beliau mengajar kitab Taqrib di rumah.

Setelah belajar di Kebonsari selama empat tahun, kemudian beliau mondok lagi di pondok Jombangan Pare selama kurang lebih tiga bulan, di Jombangan beliau mengawali ngaji kitab Al-Ajjurumiyyah dan Al-‘Amrithy , dan selama mondok di Jombangan kebiasaan Ngrowot tetap dilanjutkan.

Setelah mondok di Jombangan, beliau lanjutkan mondok di pondok Lirboyo Kediri, pada saat berangkat ke Lirboyo yang mengantarkan adalah kakaknya yaitu KH. Abdul Hadi salah satu pengasuh Pondok Mahir Ar-Riyadl Ringinagung Keling dengan mengendarai sepeda Onthel. 

Beliau menimba ilmu di Lirboyo sekitar kurang lebih selama tiga tahun, kemudian melanjutkan nyantri di pondok Sono Surabaya hanya sekitar tiga bulan, terus mondok lagi di pondok Panji Sidoarjo selama empat bulan.

Setelah kepulangan beliau dari pondok  Panji Sidoarjo, beliau mondok lagi di pondok Bendo Pare, beliau menuntut ilmu di Bendo sekitar sembilan tahun dan berhasil mengikuti pengajian kitab Ihya’ sebanyak tiga khataman, kitab Taqrib sembilan khotaman dan kitab Tafsir tujuh khataman.

Di Bendo masih meneruskan Ngrowot, jadi beliau melakukan puasa Ngrowot mulai dari Kebonsari sampai ke Bendo selama enam belas tahun, dan kebiasaan tersebut dilanjutkan sampai beliau menikah diambil menantu oleh KH. Syamsuddin Mipitan Plosoklaten.

Setelah menikah beliau tidak melanjutkan kebiasaan Ngrowotnya, jadi sekitar dua puluh lima tahun beliau melakukan kebiasaan tersebut.

Pernah suatu ketika KH. Mundzir Bandar bertandang ke KH. Ahmadi yang diantar oleh KH.  Zamrodji, Mbah Mundzir mendorong agar kebiasaan Ngrowotnya diteruskan saja.

Dan pada saat salah satu ibu Nyai Lirboyo wafat, Kyai Ahmadi menyempatkan diri untuk ta’ziyyah ke Lirboyo, dan kebetulan beliau duduk berhadap-hadapan dengan Mbah Mundzir, di tengah-tengah berkumpulnya orang-orang yang ta’ziyyah Mbah Mundzir berujar 

“Iki waliyyulloh“(Ini Waliyullah) seraya menuding kepada KH. Ahmadi.

KH. Ahmadi wafat pada hari Kamis tanggal 18 September 1997 M.atau 16 Jumadil Ula 1418 H. dan Beliau meninggalkan tiga orang putra dan satu orang putri.

Sumber: Raudlatul Ulum Kencong

Minggu, 22 Agustus 2021

Samudera Ilmu Dari Kufah, Sufyan Al-Tsauri

Samudera Ilmu Dari Kufah, Sufyan Al-Tsauri

Ilustrasi (Foto: Internet)

Sufyan al-Tsauri merupakan ulama yang yang luar biasa, Beliau hidup pada masa generasi tabi’ tabi’in. Lahir pada tahun 715 dan wafat 778 Masehi.

Lahir di Kufah, dari keluarga ulama, semula ia belajar pada Ja’far As-Shadiq. Diriwayatkan pada mulanya Sufyan bermazhab Syi’ah namun setelah ia pindah ke kota Basrah, ia mengikuti paham ahlus sunnah wal jama’ah.

Beliau termasuk ulama yang sangat komplit: Beliau termasuk 8 waliyullah yang disebut oleh Abu Nu’aim di dalam bidang tasawuf. 

Beliau mendapat gelar Amirul Mukmin Fil Hadist di dalam bidang Ilmu Hadist. 

Beliau dianggap sejajar bahkan melebihi 4 imam mazhab, Beliau memiliki mazhab sendiri yaitu Al-Tsauri di dalam Ilmu Fiqh. 

Dalam bidang tafsir, siapa saja yang membaca tafsir klasik semisal tafsir al-Thabari akan menemui banyaknya kutipan dari Sufyan al-Tsauri.

Imam Ahmad bin Hanbal menyebut Sufyan sebagai ahli fiqh. Ulama lain mengatakan Sufyan al-Tsauri  lebih alim dalam soal fiqh daripada Abu Hanifah dan lebih alim soal Hadis daripada Imam Malik.

Meskipun begitu hebat ilmunya, Sufyan al-Tsauri sangat berhati-hati mengeluarkan fatwa. Tidak jarang orang menunggu berhari-hari karena Sang Imam sedang menelaah ulang catatannya sebelum mengeluarkan fatwa atau meriwayatkan hadist.

Sayangnya kitab fiqh yang ditulisnya tidak sampai ke generasi selanjutnya. Mazhab Al-Tsauri pun punah tidak lagi ada pengikutnya. 

Salah satu sebabnya karena ia hidup bersembunyi dari kejaran penguasa, yaitu Khalifah Mansyur (754-775) dan Khalifah al-Mahdi (775-785) dari dinasti abbasiyah. Ulama besar ini menolak hadiah dari khalifah karena menganggap harta khalifah itu syubhat alias tidak jelas halal-haramnya.

Khalifah al-Mahdi pernah memanggil Sufyan dan mengangkatnya sebagai Gubernur Mekkah. Surat pengangkatan diterima Sufyan tapi sesampainya ia di sungai dajlah, surat itu dibuangnya, dan ia melarikan diri tidak sudi mengabdi pada seorang Tiran meski pakai embel-embel khalifah. Sampai wafatnya ia hidup dalam pelarian. Itulah salah satu sebab mazhabnya tidak berkembang.

Beberapa pendapat fiqhnya seperti diriwayatkan Ibn Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid sebagai berikut:

  1. Dalam cuaca dingin, berwudhu dengan mengusap sepatu sebagai ganti membasuh kaki hukumnya sah.
  2. Berwudhu secara tertib sesuai urutan itu hanya sunnah, bukan kewajiban. Jadi boleh memulai wudhu dengan membasuh kepala atau tangan terlebih dahulu.
  3. Apabila ada ahli fiqh dan ada qari’ maka yang didahulukan menjadi imam adalah yang qari’.

Catatan terserak Sufyan al-Tsauri tentang ayat al-Qur’an ditemukan dalam bentuk manuskrip oleh seorang ulama dari India dan sudah diterbitkan sejak tahun 1983 dengan judul Tafsir Sufyan al-Tsauri.

Kitab Tafsir ini karena hanya berupa catatan maka tidak seperti kitab tafsir lainnya yang membahas runtut ayat per ayat. Isinya lebih fokus pada riwayat Sufyan al-Tsauri akan sejumlah frase atau penggalan ayat Qur’an. Jadi tidak runtut per ayat. Meski tetap dikelompokkan per surat.

Namun demikian tetap saja ini kitab tafsir yang sangat bermanfaat karena bukan saja memudahkan kita melacak pandangan beliau yang selama ini tercecer, kita juga harus ingat baik-baik saat membacanya bahwa ini adalah catatan dari seorang ulama yang dianggap samudera ilmu dalam bidang tafsir, hadis, fiqh serta seorang waliyullah.

Khazanah klasik Islam itu merupakan harta umat Islam yang amat berharga. Mereka yang alergi dengan kitab kuning itu biasanya mereka yang salah paham disangkanya isi kitab kuning itu tidak bersumber dari al-Qur’an dan Hadis atau mengira para santri itu mempertuhankan para ulamanya. 

Sumber: Facebook Page Nadirsyah Hosen

Kamis, 19 Agustus 2021

Kisah Syaichona Kholil Bangkalan Kedatangan Pengemis dan Anjingnya

Kisah Syaichona Kholil Bangkalan Kedatangan Pengemis dan Anjingnya

Syaichona Kholil Bangkalan (Foto: Internet)

Almaghfullah Kyai Syaichona Kholil Bangkalan merupakan Ulama besar dan salah satu guru dari KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU / kakek Gus Dur). Beliau merupakan Ulama kharismatik yang sangat dihormati. Dalam suatu kisah diceritakan bahwa, Suatu hari Almaghfullah Kyai Syaichona Kholil Bangkalan bercengkrama dengan beberapa tamu di ruangan depan. Beliau duduk dengan salah satu lutut tertekuk di depan perut beliau ditemani secangkir kopi yang ada di hadapan masing2.

Ketika sedang asyik bercengkrama, tiba2 datang seorang pengemis dengan pakaian lusuh sambil menuntun seekor anjing masuk ke halaman rumah Kyai Kholil,kontan saja semua tamu pada heran bercampur geram apalagi tanpa salam tanpa bicara dan tanpa ijin tiba-tiba si pengemis ini menyeruput kopi milik Kyai Kholil hingga tinggal ampasnya.terlihat juga ingus yang keluar dari hidung pengemis tak di undang ini.

Marah kah mbah Kholil??

Tidak! Mbah Kholil tampak merubah posisi duduknya seperti orang posisi duduk orang sedang sholat,telapak tangannya menyatu di atas paha, kepalanya menunduk tanpa berani menatap muka si pengemis.

Justru beberapa tamu bangkit bermaksud mengusir orang aneh ini, tapi segera di cegah oleh mBah cholil dengan isyarat tangannya.

Beberapa saat suasana hening, mBah cholil tetap menunduk, tamu yang ada di ruangan itu tak satupun ada yang berani bersuara sampai kemudian si pengemis berlalu tanpa sepatah katapun.

Selepas gelandangan itu pergi mBah Kholil membuka suara : "siapa yang mau meminum kopi bekas tamuku tadi"?

Tentu saja tak seorangpun yang mau, karena kopi itu bekas di minum seorang pengemis dengan ingus menempel di bawah idung! Ngeri!

"Baiklah, kalau begitu biar saya yang menghabiskan".kata mBah kholil sambil meminum sisa kopi di cangkir.

Semua tamu semakin terheran heran, belum habis rasa penasaran para tamu kemudian mBah Kholil menyambung kata lagi : " taukah sampyan semua siapa tamu tadi,, dia Nabi Khidir, beliau habis mengunjungi sahabatnya seorang wali di Yaman dan Sudan, kemudian melanjutkan perjalanan kesini untuk menemui sahabat2nya,para Waliyullah di tanah jawa."

Kontan kemudian para tamu berebut sisa kopi yang tinggal cangkirnya itu, bahkan ada yang berebut untuk mencuci cangkirnya sekedar untuk "ngalab berkah" dari kesalehan Nabi Khidir Alaihissalam.

Kyai Kholil terkekeh dengan tingkah para tamunya ini, yah.. kebanyakan kita hanya melihat kulit, tanpa bisa melihat hati, karena mata kita sudah tertutup oleh gemerlap dunia.

Semoga kita bisa mengambil Hikmah dibalik kisah ini,, agar janganlah kita melihat dan menilai pada sesama dari segi fisiknya semata. (Dan)

Minggu, 01 Agustus 2021

Kisah Habib Umar bin Hafidz Dengan Sebuah Tim Sepakbola

Kisah Habib Umar bin Hafidz Dengan Sebuah Tim Sepakbola

Habib Umar bin Hafidz (Foto: Internet)

Habib Umar bin Hafidz merupakan salah seorang ulama besar dan masyhur, Ulama yang lahir pada  zaman milenial ini. Sejak belia Beliau telah mempelajari sejumlah ilmu agama seperti Ilmu Fiqih, Hadits, Usul Fiqih, dan Tauhid. Hal inilah yang menjadikan ulama karismatik ini disegani oleh umat muslim di seluruh dunia.

Habib Umar bin Hafidz Lahir di Yaman, 27 Mei 1963. Beliau berperan penting dalam dunia dakwah agama Islam. Hampir sepanjang tahun, beliau mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia untuk berdakwah. Dari beberapa negara yang kerap dikunjungi Beliaudi adalah Lebanon, Suriah, Aljazair, Kenya, Afrika Selatan, India, Indonesia, dan masih banyak lagi.

Dalam sebuah kesempatan, Habib Ali Al-Jufri mengisahkan awal mula dakwah Habib Umar. Kala itu usia Habib Umar masih sangat Muda. Suatu hari ketika beliau keluar dari masjid, ada segerombolan anak muda bertanya kepada Habib Umar :

"Habib.. Menurut anda sepakbola halal atau haram ?"

Kemudian Habib Umar tersenyum lalu menjawab :

"Halal.. Siapa bilang sepakbola haram ? Selama tidak membuat kalian meninggalkan kewajiban seperti sholat dll. Mengapa ? Apakah kalian bermain sepakbola ? "

" Iya Habib.. " kata salah salah satu pemuda

"dimana kalian bermain.. ?"

"di Lapangan itu Habib "

"Baik.. Insyaallah nanti aku akan pergi kesana untuk melihat kalian bermain.. "

"Coba kalian perhatikan.. " Habib Ali mengomentari kisah ini,

"Jika sekarang kalian melihat Habib Umar hanya mengajar, berceramah dll.. Jangan kalian fikir nanti ketika kalian pulang ke negara kalian masing-masing, kalian hanya akan duduk di Masjid atau pesantren saja dan menunggu orang-orang datang kepada kalian. Kalian juga harus (datang kepada mereka agar kalian) tau keadaan masyarakat disekitar kalian..."

Sejak saat itu, tiap harinya Habib Umar seringkali turun ke Lapangan, berkumpul, bercanda dan tentunya melihat permainan mereka. Ketika Habib Umar sudah mulai akrab dan dekat dengan mereka, beliau berkata :

" Aku sangat ingin melihat permainan kalian.. Tapi ada satu masalah "

"Masalah apa Habib ? "

"Kalian bermain memakai celana pendek yang tidak menutupi aurat, sedangkan menurut ulama kita, melihat aurat hukumnya haram "

"Jangan khawatir Habib.. Insyaallah mulai esok kami semua akan menutup Aurat kami.. Yang penting Habib selalu hadir bersama kami "

" Lihatlah " Habib Ali mengomentari kembali,

"Bagaimana dakwah itu harus dengan cara pelan dan perlahan.. Jika dari awal Habib sudah berkata seperti itu kepada mereka, maka jelas mereka tak akan pernah menerima nasehat beliau "

Suatu hari mereka berkata kepada Habib : " Habib kami akan menghadapi turnamen penting, pemenang turnamen ini akan mendapat piala, kami ingin Habib hadir dan menyaksikan permainan kami "

"darimana kalian dapatkan piala itu ?"

"dari kami sendiri, semua tim yang akan bertanding patungan dan hasilnya kami belikan piala "

" itu harom hukumnya karena termasuk judi..  " Habib memberi mereka arahan.

" jadi bagaimana solusinya Habib ? Sebuah turnamen harus ada pialanya "

" jika hadiahnya dari peserta maka itu judi, kalau begitu biar aku saja yang membeli pialanya.. "

Akhirnya beliaulah yang membeli piala yang menjadi hadiah utama turnamen tersebut, padahal kehidupan ekonomi beliau pada waktu itu jauh dari kata mencukupi.

Dengan metode dakwah seperti itu, Habib Umar bisa mengambil hati para pemuda tersebut, hingga suatu hari beliau berkata kepada mereka :

" Aku sudah sering datang ke tempat kalian.. Sekarang giliran kalian berkunjung ke tempatku "

kala itu Habib Umar masih belajar + mengajar di Ribath Baidho', Pesantren asuhan Habib Muhammad Al-Haddar, guru yang juga mertua beliau.

" Habib.. Kami ingin kesana, tapi kami malu. Habib tau sendiri disana adalah tempat para santri, tempat pengajian-pengajian yang jelas tidak layak dan pantas diisi oleh orang seperti kami.. "

" Jangan khawatir.. Aku akan menyiapkan tempat khusus untuk kalian di masjid Lantai dua.. "

Dan mulai saat itu, pemuda-pemuda yang masih nol ilmu agama itu, dengan pakaian-pakaian "gaul" mereka semakin rutin hadir ke Ribath, Habib Umar sendiri yang mendidik mereka, mengajarkan mereka mengaji Al-Quran, menceritakan kepada mereka sejarah-sejarah Nabi..

Meski kebanyakan dari mereka masih miskin adab dan sopan santun, bahkan ketika Habib Mengajar, mereka sudah biasa "selonjoran" kaki di depan beliau, tapi Habib tetap sabar membimbing mereka satu persatu.. "

Kalian tahu.. " pungkas Habib Ali " para pemuda pemain sepakbola itu.. (Berkat dakwah cinta dan kasih sayang Habib Umar) Sekarang merekalah yang mengisi mimbar-mimbar Masjid di kota Baidho', merekalah yang menghidupan aktivitas dakwah di Baidho' dan sekitarnya.. "

Ketika itu Habib Ali seakan berpesan, bahwa untuk membaca sejarah Habib Umar, janganlah melihat titik puncak dimana beliau sekarang berada, dimana beliau mendapat tingginya pangkat dan kemuliaan.

Tapi lihatlah jauh ke belakang sana, dimana beliau dengan ketulusan, kesungguhan, dan jerih-payah beliau bisa mendapatkan semua kemuliaan yang bisa kita saksikan saat ini..

Dari kisah Habib Umar diatas, saya teringat sebuah pesan dari Habib Ali Al-Jufri untuk para ulama dan pendakwah. Kala itu beliau berkata :

"sampai kapan kita akan melihat para pemuda (yang jauh dari agama) itu dengan pandangan merendahkan ?

Disekitar kita banyak pemuda yang memiliki potensi yang sangat besar.. Yang memiliki peluang untuk menjadi pribadi yang sangat baik.

Jika anda lihat ada pemuda yang berambut mohawk, memakai anting dan kalung rantai, memakai celana sobek-sobek..

Ketahuilah bahwa ia bagaikan sebuah permata..

Hanya saja permata itu jatuh dan terkotori oleh sampah-sampah disekitarnya.

Maka jangan pernah kita menganggap permata itu bagian dari sampah, tapi kewajiban kita adalah mengambil permata itu, membersihkannya, dan menempatkannya pada tempat yang layak.. "

Sumber: Galeri Foto Dan Kisah Teladan Ulama

Penulis: Ismael Amin Kholil, Bangkalan, 6 November, 2019.

Kisah Teladan

[Kisah Teladan][recentbylabel2]

Do'a

[Do'a][recentbylabel2]
Notification
Kisah Teladan, Belajar dan Berbagi.
Done