![]() |
| Ilustrasi Pengemis (Foto: Internet) |
Dalam berbagai kesempatan mendengarkan ceramah agama, apalagi dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah tentang Ahlak, parilaku, dan kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang paling sering dibawakan oleh para muballigh/penceramah. Karena dengan menceritakan kisah-kisah tersebut kita diajak untuk selalu menauladani Beliau, mulai dari cara beribadah, bersosial, Dll.
Di suatu sudut sebuah pasar di kota Madinah ada seorang pengemis dari bangsa Yahudi yang mana ia memiliki kekurangan yaitu buta. Setiap hari apabila ada orang yang mendekatinya dia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.
Setiap pagi Nabi Muhammad SAW mendatangi pengemis tersebut dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Beliau menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah melakukannya hingga menjelang wafat. Setelah kewafatan Rasulullah SAW tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi tersebut.
Suatu hari sahabat Nabi yakni Abu Bakar R.A berkunjung ke rumah anaknya Aisyah R.HA. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”.
Aisyah menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”.
“Apakah itu?”, tanya Abu Bakar R.A.
Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah.
Ke esokan harinya Abu Bakar R.A. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar R.A mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu ?”.
Sontak Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa”.
“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu.
Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya barulah kemudian dia menyuapiku dengan itu”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.
Mendengar penjelasan Abu Bakar, pengemis tadi seketika terkejut. Dia lalu menangis keras. Setelah tenang, dia bertanya memastikan, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina, memfitnah, dan menjelek-jelekan Muhammad. Padahal, belum pernah aku mendengar dia memarahiku sedikit pun. Dia yang selalu datang kepadaku setiap pagi dengan membawakan makanan. Dia begitu mulia.” Maka di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq, pengemis Yahudi buta itu mengucapkan dua kalimah syahadat. Demikianlah, dia masuk Islam karena menyadari betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. (Dan)
