![]() |
| Ilustrasi Berdoa (Foto: Internet) |
Dari
kabar yang kita dapat untuk memperlihatkan bentuk keprihatinan dan turut
berduka, kemudian berharap yang meninggal mendapat tempat terbaik, sejumlah
ucapan disampaikan. Salah satunya adalah kalimat ‘semoga husnul khatimah’.
Bagaimana hukum berdoa dengan kalimat ini?
Menurut Ketua Pengurus Wilayah (PW) Aswaja NU Center Jawa Timur, Ustadz Ma’ruf Khozin di dalam postingan akun Facebooknya menjelaskan. Karena sebagian kalangan mempersoalkan doa dan kalimat tersebut.
“Doa ini artinya adalah akhir yang baik, yakni berdoa agar wafat dalam keadaan Islam dan iman,” kata alumnus Pesantren Ploso, Kediri tersebut.
Terkait dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat dengan membaca doa ini, dirinya mengakui belum mengetahui dari mana sumbernya. Sedangkan doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika ada berita kematian adalah doa musibah, ampunan dan kasih sayang.
“Tapi bukan berarti tidak boleh berdoa husnul khatimah bagi keluarga, sahabat dan siapapun umat Islam yang wafat,” kata beliau.
Kemudian beliau membeberkan temuan ucapan doa husnul khatimah di beberapa kitab:
Setelah
Syekh Ibrahim Al-Maidari al-Baghdadi wafat, Syekh Abdirrazzaq Al-Baithar
mendoakan:
“Semoga
Allah menjaga kita dan dia saat beratnya peristiwa kiamat, dan semoga Allah
menganugerahkan husnul khatimah untuk kita dan dia.” (Diambil dari Hilyat
Al-Basyar fi Tarikh Qarn Tsalits Asyar, juz 1, halaman: 21).
Di
bagian lain saat Syekh Musthofa bin Muhyiddin Naja, al-Syadzili wafat, Syekh
Abdirrazzaq al-Baithar juga mendoakan kalimat berikut:
“Semoga
Allah menjaga kita dan dia dari perbuatan dosa, dan semoga Allah
menganugerahkan husnul khatimah untuk kita dan dia.” (diambil dari Hilyat
Al-Basyar fi Tarikh Qarn Tsalits Asyar, juz 2, halaman: 173).
Bagaimana
kalau ada kalangan Salafi yang teriak bahwa mengucapkan kalimat tersebut bid’ah
dan tidak sesuai tuntunan Nabi?
Salah
satu ulama ahli hadis mereka, Syekh Abdul Qadir Al-Arnauth juga didoakan husnul
khatimah padahal sudah wafat sebagaimana keterangan berikut:
“Kami berharap guru kami wafat husnul khatimah, ketika ia wafat setelah Ramadlan, keringat di dahi dan di hari Jumat.” (Mu'jam al-Jami' fi Tarajum al-Ulama, juz 1, halaman: 175)
Boleh berdoa dengan reaksi yang sesuai keadaan. Seperti: ‘Ya Allah jadikanlah segala urusan kami memiliki akhir yang baik’ dan sebagainya. Sebab doa tidak diharuskan bersumber dari Nabi. (Fatawa Syabkah Islamiyyah 187/133).
