Nabi Daud Bertaubat Karena Meremehkan Seekor Ulat - Kisah-Kisah Teladan
News Update
Loading...

Senin, 26 Juli 2021

Nabi Daud Bertaubat Karena Meremehkan Seekor Ulat

 

Ilustrasi (Foto: Internet)

Nabi Daud atau Daud bin Yisya merupakan salah satu dari tiga belas bersaudara, juga merupakan keturunan ke tiga belas dari Nabi Ibrahim. Beliau tinggal dan bermukim di kota Baitlehem, yang mana kota tersebut merupakan tempat kelahiran Nabi Isa. Beliau tinggal bersama ayah besrta tiga belas saudaranya. Nabi Daud merupakan seorang Nabi Allah yang mana amalan salat dan puasanya sangat disukai Allah.

Di dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali ada kisah yang menerangkan bahwa suatu ketika tatkala Nabi Daud sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab Zabur, tidak sengaja beliau melihat seekor ulat merah pada debu.

Melihat ulat tersebut kemudian Nabi Daud bergumam di dalam hatinya, “Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?”

Mendengar Nabi Daud bergumam dalam hati, kemudian Allah pun mengizinkan ulat merah tersebut berbicara.U lat merah itu pun mulai berbicara kepada Nabi Daud. “Wahai Nabi Allah! Allah S.W.T telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca ‘Subhanallahu walhamdulillahi wala ilaha illallahu allahu akbar’ setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca ‘Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim’ setiap malam sebanyak 1000 kali.

Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud , “Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?”

Karena pertanyaan Nabi Daud tersebut terkesan meremehkan kata-kata Ulat tersebut. Nabi Daud segera tersadar bahwa telah memandang sebelah mata kepada ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah. Maka Nabi Daud pun bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.W.T.

Begitulah sikap para Nabi, Apabila mereka menyadari kekhilafan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.W.T. Kisah- kisah yang berlaku pada zaman para Nabi bukanlah untuk kita ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa saja makhluk Allah yang berada di bumi yang sama-sama kita tempati ini. Wallahua’lam. (ed: Dan)

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
Kisah Teladan, Belajar dan Berbagi.
Done